"PAPUA HEALING MINISTRY"
"Komunitas Yang Bertumbuh"

REBUT WARISANMU (Bil. 27: 1-7)

By; Ev. Kornelius Sutriyono, S.Th*

NATS INI mengisahkan kegigihan perjuangan anak-anak Zelafehad dalam merebut kembali warisan mereka. Kelima putri Zelafehad menolak untuk berdiam diri dan membiarkan orang lain merampok warisan yang menjadi hak mereka. Berdasarkan tradisi yang berlaku di Israel, warisan; tanah pusaka – hanya diberikan kepada anak laki-laki. Jika sebuah keluarga tidak memiliki anak laki-laki, maka warisan keluarga secara otomatis akan diberikan kepada kerabatnya (ay. 4). Ketentuan itu sudah mengikat selama bertahun-tahun. Anak-anak Zelafehad tentunya tahu tentang ketetapan itu. Menariknya, mereka menganggap keputusan itu tak tepat! Mereka menganggap hal itu tak adil! Kelima Perempuan ini menentang apa yang begitu saja disodorkan kepada mereka. Mereka menolak mengakui yang salah sebagai benar. Mereka percaya bahwa Ayah mereka telah meninggalkan warisan begitu banyak bagi mereka.

Kebenaran ini penting (secara rohani); Bapa kita di Surga telah meninggalkan banyak warisan bagi kita! Anda harus mengakui bahwa Bapa di Surga telah meninggalkan banyak warisan bagi Anda! Jadi, jangan biarkan orang lain membodohi bahkan membohongi Anda – Anda tak memiliki apa-apa di dunia ini! Pertanyaan penting dan patut direnungkan adalah; sudahkah Anda mengakui dan percaya kebenaran ini?

______________________________________

BAPA ANDA DI SURGA TELAH MENINGGALKAN BANYAK WARISAN BAGI ANDA!

______________________________________

Banyak anak-anak Tuhan sedang sekarat karena ada kecenderungan menerima begitu saja. Sulit membedakan “menerima” karena berserah atau “menerima” karena frustasi. Setiap orang memiliki kecenderungan untuk menerima “begitu saja” sesuatu yang “kurang dari yang terbaik.” Tapi tidak untuk kelima Putri Zelafehad. Menanggapi hal itu, mereka tak tinggal diam ketika warisan mereka direbut orang lain. Mereka tak merebut secara fisik karena mereka Perempuan. Tapi, perjuangannya untuk berani mengemukakan persoalan itu kepada Musa, merupakan hal yang luar biasa. Mereka bangkit dan melaporkan “kejanggalan” itu kepada Musa. Dan, Musa pun melaporkannya kepada Tuhan.

Apa yang bisa kita pelajari dari nats ini?

Pertama, sebagai Pemimpin Musa mendengar suara umatnya.

Perhatikan dalam ayat 1, dikatakan “kemudian mendekatlah” dan ayat 2 “berdiri di depan Musa.” Ini menunjukkan bahwa Musa mengijinkan mereka untuk berkomunikasi menyampaikan pendapat mereka. Lebih menariknya lagi, suara mereka di dengar Musa bahkan Allah. Jadi, perhatikan baik-baik, siapapun Anda – suara Anda di dengar oleh Allah. Ketika Anda sedang diperlakukan tak adil, Allah tahu hal itu. Ia menanti engkau untuk berani datang padanya dan mengungkapkan isi hatimu. Ia tahu kalau saat ini Anda sedang mengalami persoalan. Anda mungkin diperlakukan tak adil oleh suami atau istri Anda. Atau, mungkin oleh atasan Anda karena masalah gender atau keyakinan. Dengar baik-baik, Allah mendengar jeritan hatimu!

Kedua, menilai segala sesuatu secara kritis bukan kritik.

Perhatikan ayat 4, dimulai dengan pertanyaan “mengapa?” Pertanyaan mengapa menuntut penjelasan secara factual dan konfrehensif bukan praduga. Anak-anak Zelafehad telah mngembangkan diri kritis dalam menilai segala sesuatu. Ia tak menerima begitu saja apa yang terjadi dan berlaku baginya. Mereka tidak mudah dipengaruhi suara-suara liar dalam menjalani hidup. Mereka mempertanyakan bukan mendiamkan keadaan yang dinilai keliru.

Nah, bagaimana dengan kita?

Kita justru diam karena diam identik dengan baik. Baik identik dengan benar. Jika seseorang banyak bertanya dinilainya tak patuh. Apakah hal itu benar? Tidak! Kita harus melatih diri sendiri dan orang lain untuk kritis menilai keadaan. Sebab jika tidak, kita cenderung menjadi pribadi yang kurang memiliki dan peduli. Kita harus melatih diri kita (baik Pemimpin maupun Jemaat) untuk kritis menilai keadaan.

Apa yang dinilai?

Ada banyak hal yang perlu dinilai. Penilaian kita akan memberikan kontribusi positif bagi pemajuan yang sedang kita usahakan. Konteks Papua, sudahkah gereja kritis menilai keadaan, khususnya perkembangan umat Kristen di tanah Papua. Sudahkah gereja kritis menilai jalannya pemerintahan? Sudahkah aspirasi gereja di Papua didengar karena berkualitas? Sudahkah aspirasi gereja menjadi dominan di tanah Papua? Dalam arti, apakah kebijakan-kebijakan yang diambil ditanah Papua, disuarakan dari gereja dan berakar dari kebenaran Allah?

Ketiga, berani merebut haknya.

Banyak orang yang salah dalam hal “konfrontasi” apalagi orang-orang Kristen. Seringkali kita hanya “berserah” tapi tak pernah bertindak. Orang-orang Kristen di Papua, bertindakkah ketika kekristenan di tindas? Ketika kekristenan menjadi umat yang tak merdeka di bangsa yang medeka, apa yang telah dilakukan oleh kekristenan di Indonesia Timur? Di Papua banyak tanah-tanah yang begitu gampang dijual atau pun dimiliki oleh pendatang, pernahkah kita berfikir berapa puluh tahun kedepan, anak cucu kita (orang asli Papua) akan susah untuk mencari tempat tinggal? Pernahkah kita membayangkan mereka nanti akan beli dari pendatang? Tak perlu menunggu nanti, bahkan sekarang sudah terjadi!

Nah, apa yang sudah dilakukan oleh orang Papua?

Saudara-saudara Muslim mereka bisa belajar sekaligus mengatur strategi berdasarkan fakta sejarah mengapa kekristenan hancur. Mereka dapat menganalisa mengapa kekristenan dulu bisa hancur? Apa yang membuatnya? Tapi, dapatkah orang-orang Kristen belajar mengapa orang-orang Islam hancur? Tidak ada dalam sejarah Muslim di suatu daerah musnah. Justru yang ada Islam mengalami perkembangan pesat kian hari kian tahun.

Sudah saatnya, wadah oikumene gereja di Papua (persekutuan gereja melewati batas denomasi) dihidupkan visi dan misinya kembali agar jelas. Sehingga pemikiran bersama untuk mengembangkan kekristenan dan membangun Papua yang lebih utuh – menjadi kota damai – dapat terwujud! Bisa dibayangkan jika aspirasi yang muncul semua berdasarkan kepentingan-kepentingan tertentu dengan tujuan-tujuan tertentu. Harusnya aspirasi masyarakat yang mengenal Tuhan yang dituntun Kristuslah yang diambil.

Dari mana itu berasal?

Apakah ada pemikiran yang lebih unggul dan bernilai dibandingkan pemikiran yang dituntun Kristus? Gereja harus memberikan aspirasinya kepada lembaga legislative khususnya ditingkat daerah. Sebab, legislative tidak bisa berbuat sesuatu jika tak ada aspirasi dari masyarakat. Seharusnya orang-orang percaya (gereja) menjadi sumber aspirasi bagi peradaban yang berubah, khusunya ditanah Papua.

*Penulis adalah seorang Hamba Tuhan yang semakin jatuh cinta terhadap Papua dan ingin melakukan lebih bagi pekerjaan Tuhan di Papua bahkan dunia.

Belum Ada Tanggapan to “REBUT WARISANMU (Bil. 27: 1-7)”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: