"PAPUA HEALING MINISTRY"
"Komunitas Yang Bertumbuh"

PANTASKAH MENGUTUK ISRAEL?

SIAPA PUN kita yang mencintai KEHIDUPAN, nilai-nilai kemanusiaan, kebebasan dan perdamaian pasti tak menutup mata dengan persoalan yang terjadi antara Israel dan Palestina. Apalagi, konflik yang terjadi antara Israel dan Palestina sudah berlangsung cukup lama, dan tak tahu sampai kapan akan berakhir. Belum lagi, peristiwa baru-baru ini, dimana tentara Israel menyerbu kapal yang ditumpangi para relawan kemanusiaan yang berasal dari berbagai negara. Tindakan itu, tentu serentak menimbulkan berbagai kecaman, kutukan bahkan seruan untuk memboikot produk Israel. Nah, sehubungan dengan itu apakah kita pantas mengutuk Israel?

Apa itu kutuk?

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, disebutkan bahwa kutuk adalah; doa atau kata-kata yang dapat mengakibatkan kesusahan atau bencana kepada seseorang; kesusahan atau bencana yang menimpa seseorang disebabkan doa atau kata-kata yang diucapkan orang lain; laknat; sumpah. Sedangkan mengutuk, berarti mengatakan (mengenakan) kutuk kepada; menyumpah; melaknatkan; menyatakan dan menetapkan salah (buruk).[1] Kembali ke pertanyaan kunci, apakah pantas kita mengutuk Israel? Apakah umat beragama diperbolehkan untuk mengutuk? Kaitannya dengan apa yang dilakukan Israel, tindakannya memang tak bisa dibenarkan, tapi apakah harus mengutuk? Apakah tak ada cara lain, mengungkapkan kekesalan/kekecewaan selain mengutuk? Adakah cara yang lebih santun dan mencirikan karakter Indonesia dan umat beragama, selain mengutuk?

Pertama, asosiasinya dengan aspek humanis, sosiologis dan religiusitas tindakan Israel memang tak dapat dibenarkan, itu sebabnya menuai banyak kecaman. Khususnya, penembakan yang dilakukan terhadap para relawan. Hal ini dianggap sebagai kejahatan kemanusiaan.[2] Jika kecaman dan kutukan berdasarkan apa yang dilakukan oleh Israel (misal, pembantaian atau penembakan), mengapa kita tak melakukan pengutukan juga terhadap terorisme? Bahkan, jika kita mau kritis mengapa tak melakukan  pengutukan terhadap bangsa Arab? Mengapa? Sebab bangsa Kurdi tertindas oleh tiga Negara sesama; Turki, Irak dan Iran. Rakyat Kurdi menderita ditengah-tengah bangsa Arab sendiri! Rakyat Kurdi tak jarang jadi bulan-bulanan bagi mereka. Diantara mereka biasa saling ada konflik. Dan, itu tentu dapat dicontoh secara universal, bukan? Mengapa tak mengutuk? Apakah karena masalah suku atau agama? Ingat, jangan pernah bawa-bawa agama dan suku dalam hal ini. Berfikirlah lebih bijak!

Kedua, konteks Indonesia yang mengatasnamakan sebagai bangsa beragama dan beradab, apakah dibenarkan mengutuk? Dimana letak beradab dan beragama, jika disisi lain orang beragama dan beradab justru mengutuk orang lain atau bangsa lain? Belajarlah dari sejarah. Raja-raja katolik gagal “mengebiri” eksistensi orang-orang Yahudi; kaum protestan pendukung Nazi (Hitler) gagal memusnahkan mereka; kaum komunis Rusia pun tak sanggup mencederainya; bahkan Presiden Uganda Idi Amin harus membayar mahal diakhir hidupnya, terasing dan terlunta-lunta oleh karena mulutnya yang penuh kutuk bukan saja kepada orang Yahudi, tapi juga kezalimannya terhadap rakyatnya sendiri yang nota bene adalah Nasrani.[3] Kalau Israel harus lenyap, mungkin sudah terjadi sejak masa Romawi, atau pada masa Hitler. Tapi, sejarah membuktikan, Israel tetap ada. Bangsa ini terus eksis hingga sekarang ini. Mengapa? Pikir sendiri ya…

Ketiga, kita harus bijak. Mengutif apa yang dikatakan pujangga Jawa, kita harus eling lan waspada. Jangan membabi buta bahkan melakukan teror terhadap Negara-negara yang dianggap pro-Israel. Ini jelas tak bijak. Bangsa yang beragama harusnya bijak. Benar nggak?

Keempat, masalah Israel dan Palestina bukan hanya masalah politik, tapi teologis. Dan, penyelesaiannya pun harus dalam kerangka berfikir secara teologis. Masalah Israel dan Palestina tak kan kunjung reda, jika memakai pendekatan bersifat politis, apalagi gembar-gembor untuk melakukan tindakan kekerasan. Bagaimana pun juga kekerasan tak kan pernah menyelesaikan masalah! Itu justru akan semakin memperkeruh dan memperuncing masalah.

Kelima, dalam kontek Pemerintahan Indonesia sudah seharusnya diwacanakan hubungan diplomatic Indonesia dan Israel (Mengutif, pernyataan Anggota DPR Fraksi PKB dalam acara DEBAT di TV One). Dan, ini sangat penting! Sebab, mewujudkan perdamaian bagi Palestina tak cukup berteriak-teriak di Indonesia. Harus ada tindakan yang lebih nyata. Sebab, konflik tersebut terjadi antara Israel dan Palestina, bukan Indonesia. Jadi, berbicaralah dengan salah satu pihak yang sedang berkonflik. Jika Indonesia ingin terlibat dalam upaya perdamaian Palestina, mungkin hal ini harus dipikirkan.

Jadi, pantaskah kita mengutuk?

Catatan:

  1. Masalah Israel dan Palestina tak semata-mata menyangkut persoalan kepemilikan tanah dan batas-batas otoritasnya, tapi syarat dengan sejarah, etnis, budaya, politik dan agama serta kepentingan-kepentingan lain yang menyangkut suatu harga diri sebuah bangsa dan bahkan masa depan suatu bangsa.
  2. Tulisan ini sebenarnya lebih bersifat prefentif dibandingkan apologetika. Tulisan ini mengingatkan setiap insan beragama agar lebih bijak dalam menghidupi ajaran agamanya masing-masing. Serta belajar menjadi pribadi yang bertaqwa secara utuh (Vertikal; religius dan; Horizontal; lebih manusiawi).

By; Kornelius Sutriyono, S.Th

Daftar Pustaka:

Asyer NS, Jujur Terhadap Israel: Sebuah Apologetika Kontemporer Teologis-Politis-Humanis (Bekasi: WIM, 2008).



[1]Tim Penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia, “Kutuk” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1996), 548.

[2]Sebuah pemikiran (ngga tahu siapa yang bakal denger n tanggapi): berfikir saja, dimana suara gereja (missal, PGI, PII, dll) dalam menanggapi masalah Israel-Palestina, khususnya penembakan para relawan baru-baru ini. Kelihatannya ngga ada suaranya? Apa saya saja yang ngga denger? Ya, jangan mengutuk (nda boleh: baca, Bible tentang nubuatan/janji allah kepada Israel), tapi paling nggak memberi sikap yang jelas! Supaya mereka (diluar Kristen) bisa tahu sikap gereja seperti apa! Jadi mikir, seperti apa ya…sikap gereja?

[3]Israel dan Nasrani berbeda, setiap masalah yang terjadi dengan Israel jangan disangkut pautkan dengan Nasrani. Apalagi bawa agama!

Belum Ada Tanggapan to “PANTASKAH MENGUTUK ISRAEL?”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: