"PAPUA HEALING MINISTRY"
"Komunitas Yang Bertumbuh"

“PELAYAN BERHATI KORUP”

Hosea pasal 4 dan 5 merupakan berita mengenai kecaman dan ancaman Tuhan terhadap Israel dan para pemimpinnya yang tidak setia, secara khusus para imam. Dalam pasal 4: 6 dikatakan bahwa Allah menolak mereka menjadi imam. Hal itu dipertegas lagi dalam pasal 5: 1 yang berkata, “Dengarlah ini, hai para imam, perhatikanlah, hai kaum Israel, dan pasanglah telinga, hai keluarga raja! Sebab mengenai kamulah penghukuman itu, karena kamu telah menjadi perangkap bagi Mizpa, dan jaring yang dikembangkan di atas gunung Tabor.”

Ironis memang, seorang imam (pelayan sekaligus perantara umat kepada Allah) justru mendapatkan kecaman bahkan hukuman dari Tuhan. Ini membuktikan bahwa sebenarnya tidak ada seorang pun yang kebal terhadap dosa. Ada potensi dan kemungkinan siapa pun – tanpa kecuali – jatuh dalam dosa (baik umat maupun pemimpin). Menjadi pertanyaan disini adalah; apa yang terjadi dengan para imam? Mengapa mereka ditolak oleh Tuhan? Kesalahan dan dosa apakah yang membuat mereka harus menerima hukuman? Ada beberapa alasan; mengapa hukuman datang kepada para imam, yakni;

1. MENOLAK PENGENALAN AKAN TUHAN (4: 6)

Dalam pasal 4: 6 dikatakan, “Umat-Ku binasa karena tidak mengenal Allah; karena engkaulah yang menolak pengenalan itu maka Aku menolak engkau menjadi imam-Ku; dan karena engkau melupakan pengajaran Allahmu, maka Aku juga akan melupakan anak-anakmu.” Dari ayat ini dapat disimpulkan bahwa binasanya umat sangat berhubungan dengan apa yang dilakukan oleh para imam – merupakan tangung jawab para pemimpin (imam)! Dijelaskan bahwa sesungguhnya para imam telah menolak pengenalan akan Allah. “Pengenalan akan Allah” dalam ayat ini dikaitkan dengan kata “melupakan pengajaran.” Pertanyaannya, bagaimana bisa seorang yang bertugas mengajarkan firman justru melupakan apa yang diajarkan? Ini berbicara tentang praktek hidup yang tidak ditekankan. Lebih tepatnya, bisa menyampaikan/mengajarkan, tapi tidak bisa melakukan firman. Tuhan merindukan siapapun, termasuk para pelayan –tanpa kecuali – untuk hidup di dalam praktek. Tidak cukup hanya mengetahui tentang Allah dan firman-Nya, tapi harus mengenal Allah. Tapi, apa yang terjadi? Para imam justru “menolak pengenalan akan Allah,” dengan memilih untuk memecahkan segala masalah dengan melihat kepada dewa-dewa palsu. Jadi, masalah disini (para imam) adalah bukan tidak bisa membaca firman (Alkitab), tapi masalah hati – menolak! Dan, sejak semula inilah yang menjadi masalah orang percaya – hati! Manusia berdosa bukan karena tidak bisa membaca Alkitab, tapi hatinya menolak Alkitab (firman). Mengapa orang Kristen sulit hidup di dalam praktek? Mengapa banyak orang Kristen menolak firman (Alkitab) sebagai firman Allah?

2. MENGAMBIL KEUNTUNGAN DARI DOSA (4: 8)

Dikatakan dalam ayat 8a, “mereka mendapat rezeki dari dosa umat-Ku.” Ini dosa yang telah dilakukan oleh para imam. Mereka mengambil keuntungan dari dosa yang dialami oleh orang-orang Israel. Dalam arti, semakin banyak umat yang berdosa berarti semakin banyak pula yang datang ke bait Allah (melalui para imam) untuk memberikan persembahan. Dengan semakin banyak umat berdosa berarti semakin banyak pula persembahan yang diterima oleh para imam. Lebih tepatnya, mereka mengambil keuntungan dari keterpurukan atau dosa umat. Para imam makin kaya ketika mereka dengan serakah mengambil persembahan-persembahan yang dibawa orang-oarng kepada Tuhan. Lihat 1 Samuel 2: 13-17 – anak-anak Eli bersalah karena dosa ini! Ada kecenderungan hamba Tuhan/pelayan Tuhan makan kenyang dari persembahan. Bagaimana tanggapan kita? Perhatikan penggunaan kata “rezeki” apa artinya? Rezeki berarti segala sesuatu yang dipakai untuk memelihara kehidupan (yang diberikan oleh Tuhan). Jadi, para imam tidak bisa membedakan antara berkat dan dosa! Mereka menghalalkan segala cara demi pemenuhan kehidupan! Nah, banyak orang Kristen yang tidak bisa membedakan antara rezeki dan dosa. Bagaimana kita membedakannya? Jangan pernah mengambil keuntungan dari dosa orang lain. Bersikaplah tegas dan beranilah menyatakan kebenaran. Jangan pernah memanfaatkan dosa orang lain. Apa yang benar seharusnya dikatakan benar. Sedangkan yang salah harus dikatakan salah. Sebagai hamba Tuhan/pelayan Tuhan jangan pernah kompromi dengan dosa. Jika ada keluarga yang berdosa beranikah menegur? Jika ada teman/sahabat dekat yang terlibat dosa beranikah menyuarakan kebenaran? Jika ada Jemaat/hamba Tuhan yang terlibat dosa beranikah menyuarakan kebenaran? Atau, kita takut seandainya kita tegur dia lari dari gereja dan tidak memberikan persembahan? Jika itu yang ada dalam pikiran kita, maka kita adalah pelayan bermental korup! Pelayan yang orientasinya hanya masalah materi. Pelayan yang takut kesejahteraan hidupnya terganggu. Ingat! Allah adalah sumber berkat. Sekalipun kesejahteraan kita diganggu orang lain, Allah akan memberikan kesejahteraan lewat cara/pintu lain! Bisa saja kita berkata, “ah…itu bukan urusanku. Yang penting aku pelayanan. Masalah keluarga dan jemaat itu urusan mereka sendiri. Terpenting aku melayani Tuhan dengan setia!” Ya, Anda setia, tapi tidak benar! Anda membiarkan orang lain (padahal tahu), terlibat dalam dosa, dan Anda tidak menyuarakan kebenaran, apakah itu benar? Ada kecenderungan orang-orang tertentu untuk memilih-milih pelayanan. Mereka memilih komunitas yang aman dan justru membiarkan orang dekat kita berlarut-larut dalam dosa. Apa yang membuat kita (Jemaat/Hamba Tuhan) takut menyuarakan kebenaran?

3. MEMBIARKAN PERILAKU DOSA (4: 8B)

“dan mengharapkan umat-Ku berbuat salah.” Kata mengharapkan berarti ada unsur kesengajaan dan biasanya disertai perencanaan. Ada orang-orang tertentu yang sengaja dan merencanakan orang lain bersalah/berbuat dosa. Mereka pada dasarnya tahu, tapi tak mau tahu. Acuh tak acuh, lebih tepatnya! Contoh; budaya bayar kepala (denda) dimasyarakat Papua. Perang yang terjadi di kwamki lama, penyebabnya adalah masalah perempuan (perkosaan). Biasanya ada denda atau bayar adat. Katakanlah Rp. 500.000.000,- Tindakan memperkosa adalah dosa, demikian pula tuntut menuntut (tak sesuai dengan prinsif pengampunan), tapi justru denda itu biasanya ditanggung sama-sama. Ironisnya lagi, justru pihak pemerintah dan perusahaan terkadang yang membayar. Apakah ini benar? Bukankah justru mereka setuju/membagi-bagi dosa/konsekuensi dosa untuk ditanggung bersama? Jadi, dosa itu justru malah ditanggung bersama-sama. Aneh bukan? Dosa koq ditanggung sama-sama! Inilah yang harus diperhatikan oleh Hamba-hamba Tuhan! Memberikan pengajaran yang benar terhadap umat sehingga firman Allah menjadi yang terutama dalam hidup mereka. Ingat, kita berdosa bukan karena melakukan hal yang jahat, tapi tidak melakukan hal yang baik. Jadi, ketika kita melakukan pembiaran (tidak menyampaikan/mengajarkan) bisa dikatakan itu sebuah dosa.

DISKUSI:

1. Apabila menyimak kondisi di Papua secara khusus di Timika, bagaimana gambaran besar kita terhadap pelayan Tuhan/Hamba Tuhan?

2. Apa yang harus dilakukan agar para pelayan/hamba Tuhan tak terjerumus dalam godaan materi (menghalalkan segala cara)?

3. Ada tidak kecenderungan hamba-hamba Tuhan/pelayan (imam) mengambil keuntungan dari dosa? Dan, bagaimana caranya menghilangkan hal itu?

4. Berbicara tentang pembiaran, dosa tidak membiarkan orang lain berdosa?

by; Ev. Kornelius Sutriyono, S.Th

Belum Ada Tanggapan to ““PELAYAN BERHATI KORUP””

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: