"PAPUA HEALING MINISTRY"
"Komunitas Yang Bertumbuh"

“KELAHIRAN KRISTUS MENGUBAH SASARAN KEYAKINAN YANG SALAH” (Suatu Pemikiran Menuju Pergeseran Paradigma Seputar Sentral Pemberitaan Natal)

Setiap kali memperingati Natal, perspektif dan aktivitas kita terarah pada sebuah perayaan bersifat rutin dan formal berkenaan dengan kelahiran Kristus di dunia ini. Hal itu memang benar! Namun, konteks menunjukkan bahwa Natal tidak hanya sebatas berbicara tentang “memperingati” kelahiran Yesus Kristus (seolah-olah bersifat masa lampau), namun Natal juga berbicara tentang janji penyertaan-Nya (masa kini dan masa depan). Hal itu sesuai dengan apa yang tertulis dalam Injil Matius 1: 23 “…dan mereka akan menamakan Dia Imanuel” — yang berarti: Allah menyertai kita.

Janji penyertaan-Nya yang bersifat sempurna ini, berlanjut dalam janji kasih sayang-Nya yang luar biasa–kedatangan-Nya ke dua kali (second coming). Dalam arti, Yesus sudah datang ke dunia ini lewat kelahiran-Nya (kedatangan pertama) dan Ia berjanji akan datang kedua kali. Inilah seharusnya yang menjadi sentral pemberitaan ketika Natal. Artinya, kita bukan hanya memperingati kelahiran Yesus; Yesus yang kecil, tidak berdaya, bahkan hendak dibinasakan/dibunuh oleh Herodes, melainkan meyakini janji kedatangan-Nya yang kedua kali. Dimana Ia datang sebagai Raja yang akan memerintah umat manusia.

Itulah sebabnya, pemberitaan tentang Natal seharusnya bersifat “komplit” baik kedatangan-Nya pertama kali di dunia ini (lewat kelahiran Yesus Kristus), maupun kedatangan-Nya yang kedua kali. Disamping umat, kembali diingatkan akan “anugerah Allah” melalui kelahiran Kristus, lewat Natal umat juga diingatkan akan kedatangan-Nya ke dua kali (baca Ibr. 10: 37). Sehingga umat dibawa kepada pengharapan masa depan (baca: Pengharapan Mesianis) dan menjalani hidup dalam perpekstif masa depan—hidup dalam kekudusan. Itulah seharusnya yang gereja lakukan, melakukan pergeseran paradigma seputar sentral pemberitaan Natal.

Dan, sementara gereja melakukan pergeseran paradigma seputar sentral pemberitaan Natal, kita sebagai “pemercaya Allah” juga melakukan pergeseran paradigma terhadap pola pikir, nilai, prinsif, motivasi bahkan sistem-sistem kepercayaan/keyakinan yang salah. Sebab, meski menjadi “pemercaya Allah” dan menjadi pengunjung gereja yang aktif,  sering pola pikir, nilai, prinsif, motivasi bahkan sistem kepercayaan lama dan salah, melekat begitu kuat. Padahal seseorang bertumbuh secara rohani, salah satunya adalah karena pola pikir, nilai, prinsif, motivasi atau sistem kepercayaannya yang salah dikikis oleh kebenaran firman Allah. Namun persoalannya, dalam kasus-kasus tertentu seseorang sulit memahami firman Tuhan. Apa yang diterima (kebenaran firman), hanya memenuhi pikiran tetapi tidak mengubah hidup dan tingkah lakunya. Apabila memahami firman Tuhan saja sulit, bagaimana pola pikir, nilai, prinsif, motivasi dan sistem kepercayaan yang salah tersebut bisa terkikis?

Nah, Natal seharusnya mengubah bahkan menyingkirkan semua hal berkaitan dengan pola pikir, nilai, prinsif, motivasi bahkan keyakinan yang salah? Sebab, jika tidak disingkirkan berita Natal tidak akan pernah menyentuh hati dan memperbaharui hidup kita. Kita tidak akan pernah bisa menjadi “Peniru Kristus.” Kita tidak akan pernah tahu, apa itu yang benar dan apa itu yang salah! Bahkan, kita tidak akan pernah tahu apa yang diizinkan Tuhan dan tidak!

Perhatikan kisah Yusuf, Ayah biologis Yesus! Dikisahkan bahwa setelah dia mendengar bahwa Maria tunangannya mengandung, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam (Mat. 1: 19). Bagi Yusuf, masalah “kehamilan Maria” memang sangat sulit untuk bisa diterima (baca: secara manusiawi). Keputusan terbaik dalam kondisi dan situasi semacam itu adalah dengan “menceraikannya,” meski harus secara diam-diam. Menceraikan Maria, mungkin itu adalah solusi tepat sesuai budaya yang berkembang saat itu. Bahkan hal itu bisa merupakan solusi –kolektif terakhir, bagi persoalan yang sedang dialami oleh Yusuf.

Namun perhatikan, ternyata Allah tidak pernah setuju dengan niat Yusuf yang hendak menceraikan Maria—meski dengan alasan apapun! Hal itu terbukti dengan pewahyuan yang diterima Yusuf lewat mimpi, sesaat setelah dia “mempertimbangkan” maksudnya untuk menceraikan Maria (ay. 20). Boleh dibilang, tindakan Yusuf untuk menceraikan Maria menunjukkan “terbatasnya pengetahuan” Yusuf akan maksud dan kehendak Tuhan. Dan, itu sekaligus bukti bahwa ditengah kekalutan hidup, kita diminta agar tetap memiliki kejernihan pikiran dan hati—mempertimbangkan!

Belajar dari Yusuf, jangan pernah bertindak gegabah tanpa mempertimbangkan segala sesuatu. Terlebih, bertindak untuk mengakhiri hubungan—melalui perceraian! Jangan bertindak bahkan memutuskan sesuatu dengan “diam-diam.” Bagi Anda hal itu baik,  tetapi mungkin tidak bagi orang lain! Belajarlah untuk mengkomunikasikan apa yang sedang Anda rasakan dengan pasangan Anda. Sehingga dihari Natal ini, tidak ada orang yang terluka karena Anda. Sebab, ada begitu banyak orang sementara merayakan Natal, hidupnya dipenuhi dengan kebencian, kemarahan, menderita karena terluka, kecewa karena dikhianati, tertolak bahkan merasa diri terkutuk. Jika diteliti lebih dalam, sebenarnya mereka masih membawa hati atau kehidupan mereka yang lama. Mereka masih membawa hubungan yang salah, baik kepada Tuhan maupun sesama!

Oleh karena itu, dihari Natal ini, ketika ada luka, selesaikanlah dengan segera! Jika ada benih-benih ketidaksetiaan, bertobatlah! Jika Anda masih membawa hubungan yang salah, baik kepada Tuhan maupun sesama, segeralah perbaiki! Dan, jangan pernah sekali-kali berfikir untuk mencari yang lain! Jangan mencoba berfikir untuk mencari rumput yang lebih hijau! Karena kebenarannya, tidak ada rumput yang lebih hijau kalau tidak dirawat – disiram dan dipupuk! Jika Anda suami/istri, sedang kecewa di hari Natal ini, perbaikilah hubungan Anda!  Pastikan, damai Natal memenuhi hidup Anda!

Izinkan doa ini memulihkan Anda!

Bapa, untuk setiap luka dan sakit hati yang Engkau ingatkan saat ini, saya memohon agar Engkau menjamah bagian itu dan memulihkannya. Saya ingin agar hati saya dipulihkan dan di perbaharui sehingga tidak ada lagi lubang/noda yang dapat mengganggu pekerjaan-Mu dalam hidup saya. Demikian juga, pola pikir, nilai-nilai, prinsif-prinsif, motivasi bahkan keyakinan yang salah dan menipu yang aku yakini, saat ini aku lepaskan di dalam nama-Mu. Engkau ganti dengan nilai yang baru! Saya percaya bahwa Kristus lahir ke dunia ini untuk saya. Kristus lahir untuk mengampuni saya dari dosa-dosa! Amin!

Belum Ada Tanggapan to ““KELAHIRAN KRISTUS MENGUBAH SASARAN KEYAKINAN YANG SALAH” (Suatu Pemikiran Menuju Pergeseran Paradigma Seputar Sentral Pemberitaan Natal)”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: