"PAPUA HEALING MINISTRY"
"Komunitas Yang Bertumbuh"

PANDANGAN C.L.J. SHERRILL (1892-1957) DALAM UPAYA PERKEMBANGAN PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN

  1. Sherrill: Teologis-Psikologis Sentris

28092008247Menarik melihat pandangan Sherrill kaitannya dengan usahanya mengembangkan Pendidikan Agama Kristen, terlebih ia memakai pendekatan secara teologis-psikologis sentris. Pendekatan teologis ia tuangkan dalam tiga keyakinan utama, yakni pokok ajaran tentang penyataan, manusia dan persekutuan Kristen (koinonia). Sedangkan pendekatan psikologis – pentingnya memahami manusia dalam keberadaannya – ia tertarik pada psiko-analisis (melihat manusia sebagai pribadi yang memiliki masalah).

Pendekatan psikologis – terlebih pada abad sekarang ini membuat dunia semakin tertarik. Banyak biaya dikeluarkan untuk riset, seminar, tulisan dimajalah bahkan penerbitan buku. Psikologi sangat besar pengaruhnya bukan hanya dalam konseling, tetapi juga dalam mendidik, membesarkan anak, pernikahan dan keluarga, karya tulis, dll. Bagi saya, Sherrill adalah orang yang mampu dan berhasil memakai pendekatan ini bahkan mengkombinasikan ini dengan pendekatan secara teologis. Menariknya lagi, ia membangun keyakinan psikologis setelah mendasarkannya pada keyakinan teologis. Dan, pasti hal ini memiliki dampak besar terhadap pendidikan.

  1. Pokok Pikiran Sherrill:

Pandangan Sherrill dalam membangun konsep dan praktek pendidikan Kristen dimulai dengan tiga bentuk keyakinan teologisnya yakni penyataan, manusia dan persekutuan Kristen (koinonia). Dalam kaitannya dengan penyataan, penting dilihat bagaimana Sherrill begitu tepat memahami arti penyataan (umum dan khusus). Dikatakan: ”dalam usaha berbicara tentang penyataan sebagai Penyingkapan Diri, sedang tersirat bahwa apa yang dinyatakan, dalam perjumpaan antara Allah dan manusia, bukanlah keterangan tentang Allah, melainkan Allah sendiri sebagai diri Pribadi.”

Ditambahkan bahwa Allah menyatakan diri melalui dunia alam, manusia, peristiwa sejarah dan terutama dalam diri Yesus Kristus yang adalah Firman Allah yang hidup, puncak dari segala penyataan. Penyataan ini, harus membawa pada pengalaman. Maksudnya, sebagian besar isi Alkitab menuturkan penyataan Allah melalui peristiwa sejarah (panggilan Abraham, pelepasan Israel dari Mesir). Kemudian disi lain para Nabi menyuruh untuk “mengingat” kembali peristiwa dimasa lalu – tentang kebaikan dan kebesaran Tuhan- sebab dengan mengingat, penyataan ini diperbaharui kembali dalam tiap generasi.

Adapun ajaran tentang manusia, dia melihat bahwa manusia rangkap dua (dua sisi), antara pribadi yang gagal dan berbahagia. Sebagai pribadi yang berbahagia, karena diciptakan untuk hidup dalam persekutuan, manusia mempunyai potensi untuk dijadikan seorang yang utuh dari persekutuan di dalam Yesus Kristus-melalui kebangkitan-Nya. Sedangkan berbicara tentang persekutuan Kristen, ia melihat bahwa pendidikan itu seharusnya bisa berlangsung di dalam komunitas persekutuan Kristen. Sebab menurutnya, persekutuan Kristen adalah persekutuan yang dihidupkan oleh Roh Kudus.

Menarik, sepintas melihat kerangka berfikir Sherrill, apalagi dia tidak alergi terhadap psikologi. Bahkan dia mengusulkan agar para psikolog dan theolog berdialog dalam memahami manusia dan permasalahannya. Kesemuanya itu, dimaksudkan mencari tahu fakta-fakta penyakit psikis yang menghambat proses penyerapan fakta kebenaran yang diajarkan dalam pendidikan. Dalam hal ini, Sherril menggunakan psiko-analis yakni memandang manusia dalam keberadaannya mempunyai permasalahannya, salah satunya adalah kecemasan- cemas mati, usaha tidak bermakna dan diri bersalah. Oleh karena itu, mengindentifikasi penyakit psikis yang tidak diketahui peserta didik sangat penting.

Bagi Sherrill, Pendidikan Agama Kristen adalah upaya yang diprakarsai pada lazimnya oleh para anggota persekutuan Kristen untuk menuntun dan turut berperan serta dalam perubahan-perubahan yang berlangsung dalam diri orang-orang dalam hubungannya dengan Allah, gereja, orang lain, dunia alam dan dengan dirinya sendiri. Tujuannya, memperkenalkan para pelajar dikalangan persekutan Kristen dengan warisannya, khususnya Alkitab, agar dengannya mereka dipersiapkan menjumpai Allah dan menjawab kepada-Nya, memperlancar komunikasi pada tahap yang mendalam antar- orang tentang keprihatinan-keprihatinan insani dan mempertajam kemampuannya menerima fakta bahwa mereka dicengkeram oleh kekuatan dan kasih Allah yang memperbaiki, menebus dan menciptakannya kembali.

Berkaitan dengan asas penuntun, Sherrill memberikan komposisi tema yang sangat menarik, lebih luas dan bisa mengalami banyak pengembangan. Diantaranya, penciptaan, kedaulatan, panggilan hidup, penghakiman, penebusan, penciptaan kembali, pemeliharaan dan kehidupan beriman. Dan menurut saya, perubahan terjadi kalau ada dua dasar persamaan antara teologi dan psikologi. Permasalahanya, bagaimana kedua hal tersebut (teologi dan psikologi) dapat berperan dalam perubahan peserta didik? Dan, nampaknya Sherill tidak cukup kuat memberikan solusi ketegangan yang berlangsung dari gereja yang pro dan kontra terhadap psikologi.

  1. Pandangan dan Kritikan:

Menanggapi apa yang diungkapkan Sherrill, berkaitan dengan tujuan pendidikan bahwa pendidikan harus membawa orang pada pengalaman (perjumpaan), menurut saya tujuan pendidikan bukan hanya itu. Justru timbul pertanyaan, kalau pendidikan orientasi pada pengalaman kemudian bagaimana dengan mereka yang tidak mendapatkan pengalaman ketika belajar? Bukankah hal itu justru menjadi sebuah kecemasan? Bahkan yang mengkwatirkan adalah orang akan berlomba-lomba mencari perjumpaan (pengalaman) sebagai bentuk penilaian terhadap pembelajaran yang dilakukan. Tindakan ini bisa saja cenderung subyektif dan memiliki kesan mistik.

Sehubungan dengan masalah psikologi dalam mengembangkan pendidikan, harus dipikirkan juga bahwa pada hakekatnya manusia memang bermasalah tetapi memposisikan manusia sebagai pribadi yang terus bermasalah adalah salah. Hasil pendidikan seharusnya mengantar manusia pada perbaikan/perubahan. Oleh karena itu, pendidikan juga harus memikirkan tahap selanjutnya setelah terjadi perbaikan/perubahan. Jadi, pribadi yang baik tidak harus serta merta dilihat sebagai pribadi yang terus bermasalah. Tetapi dikembangkan potensinya untuk terus berkarya, sebab pendidikan seharusnya mendorong pribadi untuk semakin bertumbuh.

Belum Ada Tanggapan to “PANDANGAN C.L.J. SHERRILL (1892-1957) DALAM UPAYA PERKEMBANGAN PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: