"PAPUA HEALING MINISTRY"
"Komunitas Yang Bertumbuh"

DIDENGAR SANG PENDENGAR

Pendahuluan

Terbang Tinggi Seperti Rajawali

Terbang Tinggi Seperti Rajawali

Mazmur 34 merupakan ucapan syukur Daud kepada Allah yang telah melepaskannya dari bahaya. Dalam hal ini, Daud mengajak kepada semua orang yang menderita untuk mengandalkan Allah. Maka Ia akan bertindak menyelesaikan segala persoalan dan membuat hati yang ketakutan menjadi tenang. ©

Daud berkeyakinan bahwa Allah yang dikenal dan terus disembah adalah kebanggaan karena tidak ada satupun persoalan/pergumulan yang Allah tidak mendengar. Dialah Allah, Sang Pendengar, yang diyakini Daud dengan teguh, yang dipuji Daud dengan segenap hati, Dialah Allah yang mendengar.

Dalam bagian ini Daud mengungkapkan tiga rahasia; tentang pengalamannya bersama Allah, taatkala dalam beban pergumulan, Allah melepaskan dia dan memberi kelegaan. Allah selalu mendengar rintihan umat-Nya. Dan, dalam nats ini Daud menjelaskan ada tiga hal yang harus diperhatikan, bagaimana ”didengar sang pendengar” antara lain;

I. Memiliki Komitmen Untuk Memuji TUHAN (ay. 2). Dalam ayat ke dua dikatakan ”aku hendak memuji TUHAN pada segala waktu.” Kata ”memuji” dalam ayat ini berasal dari kata kerja Ibrani ’abareka (parsingnya, piel, imperfek). Kata ini sendiri berasal dari akar kata barak yang berarti berlutut atau memberkati. Dalam bentuk hifil, imperfek, kata barak berarti membuat unta berlutut dengan maksud menyuruh istirahat (Kej. 24:11), sedangkan bentuk piel, imperfek kata ini jelas berarti ”memberkati” dengan tiga nuansa yaitu; pertama, subyeknya Allah; maksudnya bahwa Allah yang memberi kemampuan untuk berhasil (Kej. 1:28); kedua, jika subyeknya manusia kepada obyek manusia artinya mengharapkan seseorang mendapat kemampuan untuk berhasil (kiranya, semoga, kej 24:60); ketiga, jika subyeknya manusia kepada obyek Allah berarti mengakui bahwa Allah adalah sumber berkat manusia. Dengan pemakaian bentuk piel, imperfek pada kata ’abareka berarti kata ini dapat diterjemahkan ”aku hendak memberkati TUHAN pada segala waktu,” meskipun kata barak sendiri sering disejajarkan dengan kata ”memuji.” ”Aku hendak memberkati Allah” dalam hal ini bukan berarti Allah membutuhkan sesuatu yang tidak dipunyai (jasmani/rohani), karena Allah adalah pribadi sempurna adanya dan Dialah yang memiliki segala sesuatu. ”Memberkati” memiliki esensi kata yang sama dengan memuji (lihat terjemahan LAI ”memuji,” The Expositor’s Bible Commentary ”menyanjung-nyanjung (extol),” Wilson ”berlutut untuk memuji.” Kata yang sepadan dengan barak adalah yada yang memilki arti memuji. Kata ini ditemukan paling banyak di kitab Mazmur (70 kali). Yada lebih menekankan pada ekspresi memuji, sedangkan barak lebih menekankan kesunyian. Sering dipakai untuk ritual penyembahan kepada Allah, baik personal ataupun kolektif (Maz. 30:9, 12). Kembali kepada kata barak, yang mana dalam hal ini menarik sebab pemazmur memakai kata barak dan bukan yada. Persoalannya, mengapa? Pangkal piel, imperfek pada kata barak menjadikan arti: ”aku akan memberkati,” penggunaan piel menggambarkan intensif yaitu menyatakan suatu keseriusan/kesungguhan, sedangkan bentuk imperfek lebih tepat sebagai ”frequentiv or habbitual” yang menunujuk pada suatu tindakan yang diulang-ulang setiap waktu. Jadi dengan demikian dapat dipahami, ketika pemazmur memakai kata barak untuk kata ”memuji” ini mengandung suatu pengertian bahwa pemazmur dengan sungguh-sungguh memuji TUHAN di dalam setiap waktunya karena mengakui bahwa Allah adalah sumber berkat manusia dan meyakini bahwa Ia yang memiliki dan memberikan kedamaian serta anugerah. Kata ”memuji TUHAN pada segala waktu” ini tidak berarti bahwa pemazmur akan menghabiskan seluruh waktunya terus-menerus untuk memuji TUHAN tanpa melakukan tindakan lain, tetapi tindakan memuji TUHAN yang dilakukan oleh pemazmur dilakukan secara teratur dan selalu dilaksanakan tanpa halangan. Sesungguhnya ini adalah kata hiperbola dan muncul karena pemazmur kagum kepada Allah yang telah melepaskan dia dari bahaya kematian Raja kota Gat, Akhis namanya (1 Sam. 21:10-15), dan ini adalah semacam komitmen keseriusannya untuk memuji TUHAN dalam hal waktu. Kata ini juga dipakai dalam keluaran 29:38, kata ini mengindikasikan; pertama, keteraturan waktu yang telah ditetapkan; kedua, selalu dilakukan secara kontinew.

II. Memiliki Kerinduan Untuk Memuliakan TUHAN (ay.3) Kerinduan Daud untuk memuliakan TUHAN terlihat dari ide kata kerja ”jiwaku bermegah,” dan ”muliakanlah TUHAN” (ay. 3-4). Kata bermegah berasal dari kata tithalel berasal dari akar kata halal artinya, memegahkan diri. Dalam hal ini memiliki dua nuansa, yaitu: pertama, membanggakan kepercayaan dirinya (1 Raj 20:11); kedua, mengagungkan, membuat seorang megah. Nampaknya kata ini lebih menunjuk kepada nuansa yang kedua. Dalam hal ini ketika pemazmur berkata ”jiwaku bermegah” bukan berarti menyombongkan dirinya/menganggap lebih dari yang lain melainkan karena semua kekaguman yang luar biasa atas perbuatan Allah dalam dirinya dan pemazmur juga menganggap bahwa dirinya sangat istimewa di dalam TUHAN. Hal ini diperjelas dengan pengunaan subyek yaitu jiwa pemazmur itu sendiri. Dengan berkata ”jiwaku bermegah” (parsing: hiphael, imperfek) itu berarti tindakan bermegah itu dilakukan dengan sungguh-sungguh dan belum selesai /masih berlangsung (intensif-incomplete action). Dengan demikian dapat dipahami ketika Pemazmur berkata ”karena TUHAN jiwaku bermegah,” adalah Pemazmur melakukan tindakan bermegah dengan kesungguhan hati dan dasar semuanya adalah ”karena TUHAN.” Disamping itu Pemazmur juga dengan sungguh-sungguh menyatakan kerinduannya kepada Allah untuk senantiasa memuliakan Allah. Bahkan tidak hanya dirinya semata, tetapi bagi semua orang hendaknya memuliakan TUHAN ”bersama-sama dengan aku” (ay. 4). Hal ini jelas pernyataan luar biasa dari pemazmur, meskipun dalam kondisi yang tidak aman, bahaya mengancam, namun kerinduan untuk memuliakan Allah tidak pernah terbendung.

III. Memiliki Keyakinan Untuk Pertolongan TUHAN (ay. 5-6). Frase ”aku telah mencari TUHAN, lalu Ia menjawab aku,” menunjukkan dengan sangat bahwa pemazmur meyakini adanya pertolongan yang nyata dari TUHAN. Kata ”mencari” berasal dari kata Ibrani darasti. Kata ini memiliki nuansa khusus yaitu: pertama, mencari dengan peduli; kedua, dalam mencari aspek pengamatan untuk mengenal ditekankan; ketiga, keseriusan untuk mencari sesuatu yang tertentu. Dalam hal ini, ”mencari TUHAN” bagi Pemazmur adalah mencari TUHAN yang benar yang dilakukan dalam pujian dan penyembahan. Jadi dengan demikian kata ”mencari” disini secara khusus berarti meminta Allah di dalam doa. Pemazmur mencari Allah di dalam doa, dan pemazmur menyadari bahkan mengalami sendiri pertolongan Allah ”menjawab aku.”

Penutup: Pengalaman indah bersama TUHAN (mencari dan dijawab) yang dialami oleh Daud, dapat menajdi bagian pengalaman tak terlupakan bagi saya dan saudara. Kuncinya adalah, memiliki komitmen untuk memuji TUHAN, memiliki kerinduan untuk memuliakan TUHAN dan memiliki keyakinan untuk pertolongan TUHAN. Amin.

* Penulis adalah seorang Hamba Tuhan di Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) Jemaat Getsemani SP-3. Jl. Lokal, Jalur 2, Karangsenang, Timika. Disamping itu, adalah Dosen Bahasa dan Theologia pada STT I.S. Kijne Jayapura, Program Ekstensi PAK di Timika-Papua. Hp: 081354163402, Email: kornelius_sutriyono@yahoo.com

Belum Ada Tanggapan to “DIDENGAR SANG PENDENGAR”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: