"PAPUA HEALING MINISTRY"
"Komunitas Yang Bertumbuh"

SEJARAH ILMU TEOLOGI PERJANJIAN LAMA

1. Definisi

lord-of-allKata “Theologia” sebenarnya tidak terdapat di dalam Alkitab, sekalipun sangat banyak terdapat gagasannya. Kata “Theologia” sebenarnya menjadi gabungan dari kata-kata Alkitab yang biasa dikenal yang karakternya bersifat biblikal. Di dalam Roma 3:2 terdapat kata-kata “Firman Allah” (ta logia tou Theou). Selanjutnya di dalam 1 Petrus 4:11 terdapat kata “Firman Allah” (logia Theou), dan di dalam Lukas 8:21, muncul ungkapan “Firman Allah” (ton logon tou Theou).
Istilah “Theologia” pada masa kini dipakai dalam makna yang sempit dan juga dalam makna yang luas. Dalam arti sempit, kata “Theologia” dapat didefinisikan sebagai doktrin Allah. Namun dalam makna yang luas dan lebih biasa, istilah itu menjadi semua doktrin Kristen, bukan hanya doktrin Allah yang spesifik tetapi juga semua doktrin yang berhubungan dengan hubungan-hubungan yang dipelihara Allah dalam hubungan dengan alam semesta.
Secara etimologi, kata “Theologia” berasal dari kata Yunani;Theos (Allah) dan Logos (akal, pembicaraan, ekspresi, pidato, doktrin), dan ini berarti diskusi rasional akan Allah. Dengan demikian, definisi secara lengkap tentang Theologia adalah; suatu disiplin ilmu yang bergumul untuk memberikan pernyataan yang masuk akal dari doktrin-doktrin dari iman Kristen yang didasarkan terutama atas Alkitab, ditempatkan dalam konteks budaya secara umum, dikatakan dalam ungkapan kontemporer dan berhubungan dengan isu-isu kehidupan.

2. Perkembangan Ilmu Teologi Perjanjian Lama
Adanya ilmu “Teologi Perjanjian Lama” merupakan suatu perkembangan yang agak kemudian di dalam sejarah theologia. Sebelumnya ada “Teologi Biblika” dan “Teologi PL” adalah bagian dari Teologi Biblika ini. Umumnya “teologi Biblika” (Biblical Teology) dapat berati salah satu dari dua hal berikut ini; 1. Teologi yang berakar dan berdasar dalam Alkitab, atau 2. Teologi yang terdapat dalam Alkitab sendiri. Dalam uraian yang berikut “Teologi Biblika” diartikan dalam arti yang kedua.

A. Dari Reformasi Sampai Zaman Pencerahan
1. Para Reformator. Prinsif “Sola Scriptura” (hanya Alkitab saja) dan prinsif “Alkitab menafsirkan diri sendiri” yang menjadi semboyan reformasi sekaligus juga menjadi dasar untuk teologi Alkitabiah yang berkembang kemudian.
Namun demikian diantara reformator sendiri tidak ada seorangpun yang mengarang sebuah teologi biblika.
2. Zaman Ortodoksi. Baru pada zaman ini muncullah teologi biblika yang pertama (1640). Maksud dari teologi biblika zaman ortodoksi ialah terutama menyusun ayat-ayat dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru untuk mendukung teologi sistematika yang menjadi ratu diantara cabang ilmu teologi zaman itu.
Khususnya Abraham Calovius menunjukkan dengan jelas bahwa teologi biblika hanya mempunyai tugas untuk menopang teologi sistematika, terutama dogma-dogma ortodoksi
3. Pietisme Jerman. Dengan semboyannya ”kembali kepada Alkitab” pada zaman ini sungguh telah membawa perkembangan tersendiri. Dalam Pietisme menjadi jelas bahwa teologi biblika harus berfungsi sebagai fondasi. Baru dari situlah dan atas dasar itulah teologi sistematika harus dikembangkan. Dengan demikian teologia biblika dapat lepas dari teologi sistematika sehingga menjadi cabang ilmu pengetahuan sendiri.

B. Pencerahan
Pada masa pencerahan terjadilah suatu pendekatan yang baru sekali kepada teologi biblika disebabkan oleh ciri-ciri zaman;
Segala sesuatu yang bersifat supranatural ditolak. Akal dipandang sebagai kriteria/hakim tertinggi dalam usaha dan merumuskan kebenaran. Ia juga diakui sebagai sumber untuk memperoleh pengetahuan. Akibat perkembangan ini ialah Alkitab sebagai rekaman sempurna dari wahyu Allah ditolak.
Berkembanglah Hermeneutika Alkitab yang baru yaitu metode histories-kritis yang berkuasa diantara para teolog liberal pada saat itu. Metode penelitian historie-kritis telah membuktikan bahwa hampir tidak ada satu pun peristwa dalam sejarah Israel yang terjadi persis sebagaimana dinyatakan dalam Alkitab. Beberapa prinsif teologi histories-kritis ialah sbb;
Alkitab tidak secara apriori ditempatkan sebagai kebenaran mutlak, melainkan harus membuktikan diri dibawah penelitian histories-kritis.
Tidak menerima asal-usul ilahi dari Alkitab (wahyu, nubuatan, inspirasi, mujizat).
Apa yang tertulis dalam Alkitab sungguh tidak mungkin terjadi.
Kritik literaris yang radikal diterapkan juga pada Alkitab. Pelopornya ialah dokter medis dari Perancis bernama, Jean Astruc yang mulai membagi Pentateukh atas sumber-sumber.
Keyakinan akan inspirasi Alkitab ditolak. Alkitab dipandang sebagai salah satu dari sekian dokumen kuno di dunia ini. Pelopor faham ini ialah teolog rasionalis, Johann Salomo Semler (1725-1791) yang menegaskan bahwa “Firman Allah sama sekali tidak sama dengan Alkitab” sehingga tidak lagi dapat dikatakan bahwa “Alkitab adalah Firman Allah. Itu berati bahwa tidak semua bagian Alkitab berdasarkan wahyu dan inspirasi Allah.
Disamping itu, pada tahun 1792 Von Ammon menulis sebuah teologi biblika berdasarkan ide-ide dari Semler dan dari dua ahli filsafat di Jerman Lessing dan Kant. Di dalam tulisannya nampak bahwa ia menganggap P.B lebih unggul dari P.L.

C. Dari Pencerahan Kepada Teologi Dialektis
Pada masa ini perkembangan Teologi PL yang bisa dilihat jelas adalah munculnya penekanan kembali kepada peranan wahyu dalam teologi Perjanjian Lama.
Terbitnya “Teologi Perjanjian Lama” karangan Eduard Koenig pada tahun 1922 menandai permulaan kebangkitan kembali teologi Perjanjian Lama sebagai cabang ilmu teologi. Teologinya mempunyai cirri-ciri sbb;
Pandangan yang tinggi terhadap Perjanjian Lama
Penolakan terhadap teori evolusi agama. Dimana teori ini memandang Perjanjian Lama sebagai refleksi Yahudi terhadap sejumlah agama-agama kafir. Akibatnya, tidak ada kesatuan lagi dalam Perjanjian Lama, karena Perjanjian Lama dianggap sebagai koleksi bahan-bahan dari zaman-zaman dan latarbelakang yang berbeda-beda.
Tuntutan agar eksegesa dilakukan berdasarkan metode gramatis-historis.
Tidak hanya itu, Teologi Perjanjian Lama terkemuka yang diterbitkan pada tahun 1922 ialah antara lain karangan Walter Eichodt (1933-1939), yang mempertahankan bahwa teologi Perjanjian Lama tetap bersifat histories, Geerhardus Vos yang mengarang “Biblical Theology” (1948), Th. Vriezan (1949), Gerhard Von Rad (1957-1960), J.B. Payne (1962) dan Walter C. Kaiser (1978).

2 Tanggapan to “SEJARAH ILMU TEOLOGI PERJANJIAN LAMA”

  1. weitz..
    keren boz…
    dirimu pendeta atau romokah?
    biz qu measakan siraman rohani (halah,,) ples filsafat n teologi banget gitu paz baca tulisan ini
    hehe.. cip lah..

  2. iki sopo kah? yang jelas pendeta tulen! nd no romo!!!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: